Sejarah Singkat Kedewan, Bojonegoro Jawa Timur
Kedewan adalah sebuah kecamatan yang terletak di Kabupaten Bojonegoro, Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Wilayah ini memiliki karakteristik geografis yang khas, yaitu berbukit dan sebagian besar terdiri dari kawasan hutan dan pegunungan kapur yang menjadi bagian dari Pegunungan Kendeng. Wilayah Kedewan juga dikenal sebagai salah satu daerah yang termasuk dalam kawasan eksplorasi minyak dan gas bumi.
Desa Kedewan juga dikenal sebagai salah satu pusat peradaban kuno di Jawa Timur. Pada masa lampau, wilayah ini diyakini menjadi tempat tinggal para Rsi tokoh spiritual dan intelektual yang menjadikan Bukit Kendeng sebagai pusat spiritualitas dan pendidikan. Jejak mereka masih terlihat dari struktur batu, arca, dan situs-situs ritual yang tersebar di sekitar desa.
Namun, sejak tahun 1931, istilah "Makam Kalang" mulai digunakan untuk menyebut situs-situs tersebut, menggantikan pemahaman tentang warisan para Rsi. Istilah ini tercatat dalam Indische Courant, surat kabar Hindia Belanda, dan perlahan menggeser nilai sejarahnya menjadi sekadar tempat keramat lokal.
Kini, Kedewan bukan hanya dikenal karena sumur minyak tuanya, tetapi juga sebagai desa yang menyimpan warisan spiritual dan sejarah peradaban kuno yang menunggu untuk digali kembali.
(Dari Kerajaan Medang hingga Raden Dipoyono)
"Setiap desa punya cerita..."
"Namun tak semua cerita tercatat.
Sebagian disimpan oleh tanah, disampaikan lewat angin, dan diwariskan lewat bisik-bisik generasi."
Kabupaten Bojonegoro memiliki sebuah desa yang menyimpan banyak misteri dan jejak sejarah yang nyaris terlupakan.
Desa Kedewan terletak di lereng Pegunungan Kendheng adalah sebuah wilayah sunyi yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Blora (Jawa Tengah) dan Kabupaten Tuban.
Dari kejauhan, desa ini tampak tenang dan sederhana. Namun di balik pepohonan jati dan bebukitan batu, tersimpan kisah panjang: tentang kerajaan kuno, laku spiritual, makam para Kalang, dan garis keturunan yang berakar dari perlawanan dan kebijaksanaan.
1. Zaman Kerajaan Medang (Abad ke-8 – 10 M)
Wilayah Kedewan diyakini telah dihuni sejak masa Kerajaan Medang, terutama sebagai kawasan religius dan tempat pertapaan. Letaknya di lereng Pegunungan Kendheng menjadikannya lokasi yang sunyi, jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan. Berdasarkan temuan di Situs Adan-Adan, terdapat indikasi kuat pengaruh Hindu-Buddha dan aktivitas spiritual para resi, brahmana, serta kalang—yakni penjaga wilayah dan pengemban ilmu pengetahuan.
2. Masa Kahuripan dan Majapahit (Abad ke-11 – 15 M)
Pada masa pemerintahan Raja Airlangga, Kedewan berada dalam wilayah pengaruh Kerajaan Kahuripan. Prasasti Maribong (1021 M), yang ditemukan di wilayah Ngraho, mencatat adanya tanah sima (bebas pajak) yang diberikan kepada para Resi menunjukkan eksistensi pusat spiritual di daerah ini.
Pada masa Majapahit, Kedewan menjadi bagian dari jalur penting yang menghubungkan wilayah timur dan barat Jawa. Meskipun tidak menjadi pusat kekuasaan, Kedewan berperan sebagai wilayah penyangga yang menjaga nilai-nilai kejawen dan kebatinan, yang tersembunyi di balik rimbunnya Pegunungan Kendheng.
3. Kadipaten Jipang (Abad ke-16)
Setelah keruntuhan Majapahit, Kedewan berada dalam pengaruh Kadipaten Jipang di bawah pimpinan Arya Penangsang. Pegunungan Kendheng menjadi tempat yang strategis sebagai lokasi persembunyian, konsolidasi kekuatan, sekaligus tempat laku spiritual bagi kalangan bangsawan dan pertapa. Meski tidak banyak tercatat secara resmi dalam dokumen sejarah, tradisi spiritual dan budaya lokal tetap hidup melalui peran kalang dan para tetua adat.
4. Masa Kolonial Belanda dan Inggris (Abad ke-17 – 19)
Memasuki era kolonial, Kedewan mulai dikenal karena kekayaan sumber daya alamnya terutama minyak bumi dan hutan jati. Pada masa pendudukan Inggris (1811–1816), Bojonegoro dijadikan jalur logistik penting, meskipun Kedewan sendiri tetap merupakan desa terpencil dan sulit dijangkau.
Namun demikian, desa ini tetap mempertahankan keaslian adatnya. Nilai-nilai spiritual, penghormatan terhadap makam para leluhur, serta pemeliharaan sendang dan situs suci tetap berlangsung secara turun-temurun.
5. Pasca Perang Diponegoro: Raden Dipoyono Menaklukkan dan Menyatukan Kedewan
Setelah meletusnya Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin oleh Pangeran Diponegoro, banyak bangsawan dan pengikutnya tersebar di wilayah perbukitan Kendheng dan ke berbagai penjuru Jawa. Salah satu dari mereka adalah Raden Dipoyono, seorang bangsawan berdarah prajurit yang dikenal memiliki kekuatan spiritual, wibawa, serta ilmu kebatinan yang dalam.
Menurut cerita lisan masyarakat, Kedewan pada masa itu merupakan wilayah yang keras, liar, dan sulit diatur. Masyarakat hidup bebas, tanpa struktur pemerintahan yang teratur, dan seringkali terjadi konflik antar kelompok. Tidak mudah bagi siapapun untuk masuk dan memimpin di wilayah ini.
Namun Raden Dipoyono datang tidak membawa pedang, melainkan membawa jiwa dan ilmu. Ia menghadapi penolakan dan perlawanan, namun melalui laku tapa, kesabaran, dan keberanian dalam menghadapi tokoh-tokoh sakti lokal, ia berhasil menyatukan masyarakat Kedewan.
Atas keberhasilannya, dan dengan dukungan dari rakyat maupun penguasa kolonial, Raden Dipoyono diangkat sebagai Demang pertama Kedewan. Ia menjadi jembatan antara sistem leluhur dan pemerintahan kolonial.
Di bawah kepemimpinannya:
Masyarakat mulai tertib dan teratur,
Makam-makam Kalang dirawat kembali,
Sendang dan situs suci dijaga dengan hormat,
Dan desa mulai masuk dalam sistem administrasi resmi, tanpa kehilangan akar budayanya.
Raden Dipoyono – Demang Pertama Kedewan
Raden Dipoyono bukan sekadar pejabat pemerintahan. Ia adalah tokoh spiritual dan pemersatu adat. Kehadirannya dianggap sebagai penanda babak baru dalam sejarah Kedewan yakni babak keteraturan, spiritualitas, dan identitas diri yang teguh.
Keturunan Langsung Raden Dipoyono
Putra beliau yang dikenal adalah:
Raden Kertojoyo.
Tokoh tenang dan bijaksana yang mewarisi garis kepemimpinan dan spiritualitas dari sang ayah. Dari Raden Kertojoyo lahir empat tokoh penting:
1. Mbah Mangun
2. Mbah Mangil
3. Mbah Wongso
4. Mbah Tandur
Keempat nama tersebut hidup dalam memori masyarakat Kedewan sebagai penjaga spiritualitas, keamanan adat, pertanian, dan pengetahuan lokal.
Wibawa Leluhur
Nama Raden Dipoyono menjadi panutan abadi. Anak-cucunya memikul tanggung jawab besar: menjaga nama baik keluarga, menjaga kesucian desa, dan terus menghidupkan ajaran leluhur.
Mereka dikenal berilmu tanpa banyak bicara, berwibawa tanpa menindas, dan tetap menjalani tirakat, laku prihatin, serta menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan sang Pencipta.
Saudara Kandung Raden Dipoyono
(Disarikan dari Cerita keturunan)
Menurut cerita salah satu keturunan Raden dipo dari simbah-simbah dulu, Raden Dipoyono memiliki empat saudara kandung yang masing-masing memainkan peran penting dalam masyarakat Jawa Timur pada masa itu. Nama-nama ini kemungkinan merupakan nama samaran, digunakan untuk menyamarkan identitas di tengah situasi politik yang tidak stabil.
Daftar Saudara Kandung:
1. Raden Dipo Nusantoro
– Diduga pernah menjabat sebagai Bupati Bojonegoro.
– Seorang tokoh tegas dan diplomatis.
2. Raden Dipo Susanto
– Dikenal sebagai Wedono Padangan,
– Dekat dengan kalangan ulama dan tokoh tani.
3. Raden Ayu Dewi Tri Susilowati
– Disebut menikah dengan Bupati Kediri,
– Menjadi penghubung keluarga dengan elite pemerintahan kolonial.
4. Raden Dipoyono
– Demang Kedewan,
– Pemimpin spiritual dan pemersatu masyarakat Kendheng.
Nama-nama ini hingga kini masih ditelusuri oleh para peneliti sejarah dan keturunan keluarga besar Kedewan.
“Dari Raden Dipoyono mengalir darah pemimpin dan penjaga adat.
Dari Raden Kertojoyo tumbuh cabang-cabang keturunan yang menjaga api warisan leluhur.
Dan dari saudara-saudaranya terbentang jaringan perlawanan halus yang tak tercatat dalam buku sejarah,
namun hidup dalam tanah, dalam nama, dan dalam jiwa Kedewan.”
“Bila engkau berjalan di tanah Kedewan,
dan angin lembut menyentuh pundakmu,
boleh jadi itu bukan sekadar angin—
tapi salam sunyi dari darah Raden Dipoyono
yang masih mengalir, menjaga tanah ini dalam diam.”
Kedewan bukan sekedar desa...
Ia adalah naskah purba yang tertulis di tanah,
dan dibisikkan angin lewat generasi.
Dari Medang ke Minyak,
Dari Perang ke Pewaris
Jejak Kedewan masih hidup.
Tersisa untuk mereka yang mau mencari,
dan berani mendengar...
suara dari tanah tua ini.
Dokumenter ini disusun oleh Kang Lisandipo melalui proses penelitian selama hampir tujuh tahun. Penelusuran dilakukan dengan menggabungkan sumber-sumber lisan masyarakat, serta dokumen-dokumen sejarah lama, termasuk catatan kolonial Belanda dan inggris, yang merekam jejak masa lalu Kedewan dalam lembar-lembar yang nyaris dilupakan.
Dari Raden Dipoyono mengalir darah pemimpin dan penjaga adat.
Dari Raden Kertojoyo tumbuh keturunan yang menjaga api warisan.
Dari saudara-saudaranya lahir jejaring perlawanan yang tak tercatat,
namun hidup dalam tanah, nama, dan jiwa Kedewan.”
"Jika kau berjalan di tanah Kedewan,
dan angin lembut menyentuh bahumu,
barangkali itu bukan sekadar angin—
melainkan salam sunyi dari darah yang masih menjaga dalam diam."
Kedewan bukan sekadar desa—
ia adalah naskah purba yang ditulis tanah,
dan dibisikkan angin pada mereka yang sudi mendengar.
Dari Medang ke Minyak,
Dari Perang ke Pewaris,
Jejak Kedewan masih hidup.
Bagi yang mau mencari,
dan berani mendengar...
suara tanah tua ini belum benar-benar diam.
---
Cerita singkat ini Disusun oleh Kang Lisandipo,
melalui riset tujuh tahun, dari cerita rakyat hingga dokumen kolonial yang nyaris terlupakan.
Rahayu sagung dumadi.
Komentar
Posting Komentar